media pembelajaran

TEKNOLOGI DAN MEDIA : FASILITAS PEMBELAJARAN

Fatma Sukmawati

Ahmad Mushlih

Wahyudi

Bazaruddin Ahmad

 

PENDAHULUAN

Sejarah, media dan teknologi memiliki pengaruh terhadap pendidikan. Contohnya, komputer dan internet telah mempengaruhi proses pembelajaran sampai saat ini. Aturan-aturan dari pendidik dan pebelajar telah berubah karena dipengaruhi media dan teknologi yang digunakan di dalam kelas. Perubahan ini sangat esensial, karena sebagai penuntun dalam proses pembelajaran, pendidik (guru) berhak menguji media dan teknologi dalam konteks belajar dan itu berdampak pada hasil belajar siswa.

PEMBAHASAN

TEKNOLOGI
Kata teknologi selalu memiliki konotasi yang beragam, berkisar dari sekedar perangkat keras untuk pemecahan masalah. Sebagai pemecah masalah dalam defenisi yang dikutip oleh John Kenneth Galbaraith: ”Penerapan sistematika pengetahuan ilmiah diatur untuk tugas-tugas praktis”.
Penggunaan teknologi sebagai proses disoroti dalam defenisi teknologi pembelajaran yang diberikan oleh perkumpulan profesional dalam bidang ini: ”teori dan praktek mendesain, pengembangan, penggunaan, manajemen, dan proses evaluasi, dan sumber pembelajaran” (Seels & Richey, 1994).

Saat ini, ketika sebagian besar orang mendengar kata teknologi, mereka akan berpikir mengenai produk teknologi seperti; komputer, CD Player, dan pesawat ruang angkasa. Ini merupakn satu jenis teknologi yang akan menjadi acuan bagi seorang teknologi pembelajaran untuk digunakan untuk tujuan pembelajaran.

Bila teknologi mengacu pada proses untuk meningkatkan pembelajaran, maka teknologi akan berkaitan dengan sistem pembelajaran. Suatu sistem pembelajaran terdiri dari komponen yang terkait dan bekerjasama, secara efisien dan dapat diandalkan, dalam kerangka tertentu untuk memberikan aktivitas belajar yang diperlukan demi mencapai tujuan belajar.

Salah satu peran media dan teknologi yang paling penting adalah untuk memberikan katalis bagi perubahan dalam lingkungan pembelajaran. Penggunaan media yang efektif mengharuskan instruktur memiliki pengaturan yang lebih baik, memikirkan tujuannya, menggati rutinitas kelas setiap hari, dan mengevaluasi secara luas untuk menentukan dampak pembelajaran pada kemampuan mental, perasaan, nilai, ketrampilan interpersonal, dan ketrampilan motorik.

MEDIA
Secara plural media adalah saluran komunikasi. Makna media dalam bahasa latin adalah ”antara”, istilah ini mengacu pada apapun yang membawa informasi antara sumber dan penerima. Contohnya meliputi video, televisi, diagram, material cetak, komputer, dan instruktur. Ini semua dianggap media pembelajaran ketika membawa pesan dengan tujuan pembelajaran. Tujuan dari media adalah untuk memudahkan komunikasi.Sejalan dengan adanya sekolah dan kampus berbasis media dan jaringan koputer internet, dunia menjadi kelas tersendiri bagi pebelajar. Dengan demikian penyeragaman kurikulum sekolah-sekolah dianggap wajar.

Enam kategori dari media adalah teks, audio (suara), visual (gambar), video, manipulasi obyek, dan orang. Tujuan dari media adalah memfasilitasi komunikasi dan pembelajaran. Yang pertama adalah teks, yaitu huruf abjad yang mungkin ditampilkan dalam banyak format, seperti, buku, poster, papan tulis, layar computer, dll. Selanjutnya adalah audio, yang termasuk ialah yang anda dengar, missal suara seseorang, music, suara mekanik (menjalankan mesin mobil), kebisingan, dll. Visual adalah yang termasuk yaitu diagram dalam poster, gambar di papan, foto, grafik di buku, kartun, dll. Video adalah media yang ditunjukkan dengan suatu gerakan, seperti DVD, videotape, animasi komputer, dll. Kemudian manipulasi obyek adalah tiga dimensi dan dapat disenting dan dikontrol oleh siswa. Yang terakhir adalah orang, bisa guru, siswa, atau subyek lain. Orang adalah pengkritik pembelajaran. Siswa belajar dari guru, siswa lain, dan orang dewasa.

 

 

 

 

FORMAT MEDIA

Format media adalah bentuk fisik dalam pesan yang dipersatukan dan ditampilkan. Format media termasuk, sebagai contoh, papan tulis (gambar dan teks), powerpoint slide (teks dan visual), CD (suara dan musik), DVD (video), dan computer multimedia (audio, teks, dan video). Masing-masing mempunyai perbedaan kelebihan dan kelemahan dalam menyebut tipe dari pesan yang dapat ditunjukkan dan ditampilkan. Memilih format media dapat menjadi tugas kompleks. Faktor yang dipertimbangkan termasuk barisan yang besar dari media dan teknologi yang ada, variasi dari pebelajar, dan banyak obyek yang mengikuti. Ketika memilih format media, situasi pengajaran atau lingkungan (misal kelompok besar, kelompok kecil, atau pengajaran mandiri), variabel pembelajar (pembaca, non pembaca, atau lebih suka pendengar), dan  natural (kognitif, afektif, psikomotor, atau interpersonal) harus dipertimbangkan untuk menyesuaikan format media yang digunakan (hanya gambar, gambar bergerak, kata-kata cetak, atau kata-kata bicara).
THE CONRETE-ABSTRACT CONTINUUM

Media pembelajaran yang menggabungkan pengalaman kongkrit membantu siswa untuk menggabungkan pengalaman sebelumnya sehingga mempermudahnya untuk mempelajari konsep-konsep abstrak, misalnya, siwa yang telah melihat berbagai aspek pembangunan jalan layang atau jalan raya. Mereka melihat  pekerja bekarja, dan mereka melihat tahap-tahap pembangunan jalan. Akan tetapi, mereka perlu memiliki pengalaman-pengalaman ini yang akan digabungkan ke dalam dugaan yang disamaratakan tentang apa yang dimaksud dengan pembangunan jalan. Menunjukan video yang menggambarkan seluruh proses yang terkait satu dengan lain ini merupakan cara ideal untuk menggabungkan berbagai pengalaman mereka kedalam suatu ringkasan yang bermakna.

Di dalam mengembangkan teori pembelajaran, Bruner mengusulkan bahwa pembelajaran harus langsung berasal dari pengalaman ke benda-benda yang disajikan berdasarkan pengalaman (penggunaan gambar-gambar dan video tape) ke simbol penyajian (seperti penggunaan kata-kata).

 

LEARNING
Belajar adalah proses pengembangan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, atau pengembangan tingkah laku sebagai interaksi individu, menyangkut fasilitas-fasilitas fisik, psikologis, metode pembelajaran, media, dan teknologi. Belajar adalah proses yang dilakukan sepanjang waktu oleh individu manapun. Dengan demikian, belajar adalah proses yang melibatkan proses seleksi, pengaturan, dan penyampaian pesan yang pantas kepada lingkungan dan bagaimana cara pebelajar berinteraksi dengan informasi tersebut. Dengan demikian hal ini melihat beberapa pandangan-pandangan psikologis dan pandangan-pandangan filusuf. Pembahasan kali ini juga akan menggambarkan berbagai aturan dari media dalam belajar dan menampilkan metode-metode yang berbeda, seperti presentasi-presentasi, demonstrasi-demonstrasi, dan diskusi-diskusi akan teknologi yang berhubungan dengan belajar.

Tipe pembelajar

Domain kognitif. Dalam domain kognitif, pembelajaran melibatkan kemampuan intelektual  yang mungkin diklasifikasikan sebagai verbal/informasi visual atau sebagai kemampuan intelektual. Pembelajaran verbal/visual biasanya melibatkan penghafalan atau mengingat kembali perbuatan-perbuatan atau informasi. Sebagai contoh termasuk menamakan tulang-tulang di tangan manusia, membubuhkan bagian-bagian pidato dalam sebuah kalimat, dan menemukan contoh-contoh bentuk-bentuk pokok dalam menggambar.

Domain afektif. Dalam domain afektif melibatkan sikap, perasaan, dan nilai. Afektif obyektif termasuk mendorong ketertarikan dalam cerita oleh pertemuan yang agak lama, memberi semangat sikap-sikap sosial sehat terus ciptaan dari program recycle, dan mengangkat sebuah etka standar untuk menggunakan internet.

Domain keterampilan motorik. Dalam keterampilan motorik, pembelajaran melibatkan atletik, manual, dan keterampilan fisik lainnya. Pada tingkat mula-mula, akan termasuk menggunakan pensil dan gunting; pada tingkat dasar menggunakan keyboard komputer, mikroskop sederhana, dan mengukur alat-alat; dan pada menengah dan sekolah tingkat atas menggunakan ilmu pengetahuan dan bermain instrument music.

Domain interpersonal. Pembelajaran dalam domain interpersonal melibatkan interaksi di antara orang-orang. Keterampilan interpersonal adalah keterampilan berpusat pada orang yang menghendaki peran fasilitator, siswa sangat sering menempatkan ke dalam kelompok kerjasama untuk variasi dari aktivits pembelajaran. Anda akan membutuhkan mengajar siswa anda bagaimana mendengarkan, membagi, menghormati, membantu, dan memimpin. Ini dan keterampilan lain dibutuhkan untuk mencapai komunikasi interpersonal secara efektif. Permainan di ruang kelas dan kegiatan pendidikan fisik juga termasuk keterampilan interpersonal.
Psychological Perspective on Learning

Bagaimana guru menampilkan peran dari media dan teknologi di dalam kelas, ini tergantung akan seberapa jauh mereka memahami akan bagaimana masyarakat telah belajar mengunakannya. Dibawah ini ada beberapa perspektif yang berkaitan dengan psychological perspectives on learning:

  • Behaviorist Perspective

Pada pertengahan 1950an, fokus belajar berawal dari pembentukan stimulus kepada pebelajar untuk merespons stimulus tersebut. Skinner mendemonstrasikan bahwa behavior dari suatu organisme dapat dibentuk oleh penguatan, atau pemberian hadiah, dan keinginan yang direspons oleh lingkungan. Hasilnya berupa munculnya pembelajaran yang telah diprogramkan, suatu teknik dalam membimbing pebelajar melalui langkah-langkah suatu pembelajaran kepada suatu taraf prestasi yang diinginkan.

  • Cognitivist Perpective

Pada sisi lain penganut paham kognitif telah membuat suatu kontribusi terhadap teori belajar dan desain pembelajaran dengan menciptakan model-model akan bagaimana pebelajar menerima, berproses, dan memanipulasi informasi. Penganut Kognitivis melihat dengan cara yang berbeda akan pola-pola belajar yang telah terbiasa. Contohnya; menciptakan suatu kemampuan yang di sebut dengan memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Informasi yang baru disimpan oleh memori jangka pendek, dimana informasi itu dilatih sampai dapat dikatakan siap disimpan dalam memori jangka panjang. Penganut Kognitifistik memiliki persepsi yang luas terhadap belajar yang independent. Dengan demikian, maka siswa menggabungkan informasi dan ketrampilan dalam memori jangka panjang untuk mengembangkan strategi kognitif, atau ketrampilan yang berkaitan dengan tugas-tugas kompleks.

  • Constructivist Perspective

Konstruktvisme merupakan gerakan yang berkembang jauh melebihi keyakinan para kognitivis. Konstruktivisme mempertimbangkan keterlibatan siswa dalam memaknai pengalaman sebagai inti dari pembelajaran. Konstruktivistik menekankan bahwa siswa menciptakan interpretasi mereka sendiri terhadap dunia informasi. Konstruktivisme mengatakan bahwa siswa meletakan pengalaman belajar mereka dengan pengalamannya sendiri dan tujuan pembelajaran bukanlah mengajarkan informasi tetapi menciptakan situasi-situasi sehingga siswa dapat menginterpretasi informasi dengan pemahamnnya sendiri. Peran pembelajaran tidak untuk mengeluarkan fakta-fakta tetapi untuk menyediakan siswa dengan cara-cara untuk mengumpulkan informasi.

Konstruktivisme percaya bahwa belajar yang efektif terjadi ketika pebelajar (siswa) terlibat dalam tugas-tugas autentik yang berhubungan dengan konteks-konteks yang bermakna. Kemudian ukuran terakhir dari pembelajaran berbasis pada kemampuan pebelajar (siswa) dalam menggunakan pengetahuan untuk memfasilitasi cara berpikir akan kehidupan sesungguhnya.

  • Social-Psychological Perspectiv

Psikologi sosial merupakan tradisi lain yang sudah dibentuk dalam studi belajar dan pembelajaran. Psikologi sosial melihat dampak dari organisasi sosial akan pembelajaran di dalam kelas. Apakah susunan kelompok belajar di dalam kelas-belajar mandiri, kelompok kecil,  atau satu kelas secara menyeluruh? Apakah susunan kekuasaan-seberapa jauh siswa dapat mengkontrol aktivitasnya sendiri? Dan apakah struktur penghargaan-adalah kerja sama dibandingkan membantu peningkatan kompetisi? Robert Slavin sudah mengambil posisi sebagai peneliti mengatakan bahwa cooperative learning lebih efektif dan lebih menguntungkan sosial dari pada pembelajaran kompetitif dan pembelajaran individualistik.

THE ROLES OF MEDIA IN LEARNING

Media memiliki berbagai peran dalam pembelajaran. Pembelajaran mungkin saja bergantung pada keberadaan seorang guru. Bahkan dalam situasi ini guru mungkin saja bergantung pada penggunaan media. Di sisi lain, pembelajaran mungkin tidak memerlukan seorang guru. Seperti siswa mengarahkan pembelajaran yang sering disebut ”belajar mandiri” walaupun dalam kenyataan dituntun oleh siapapun yang mendesain media.

Instrutor-Directed Instruction

Penggunaan media dan teknologi dalam situasi pengajaran adalah untuk memberikan dukungan tambahan bagi instruktur agar lebih hidup di dalam kelas. Tentunya media pembelajaran dirancang dengan sesuai agar dapat mempertinggi dan memajukan pembelajaran dan mendukung pembelajaran berbasis guru.
Penelitian telah lama dilakukan dan menunjukan peran istruktur dalam menggunakan media pembelajaran yang efektif. Misalnya, penelitian menunjukan bahwa ketika guru memperkenalkan film, mengaitkannya dengan tujuan pembelajaran, maka sejumlah informasi yang diperoleh siswa dari film tersebut meningkat (Wittich & fowlkes, 1946). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, apapun bentuknya, hal tersebut yang diinginkan untuk pola pikir yang dapat menyerap pembelajaran.

Thematic Instruction

Sekarang banyak guru yang mengatur pembelajaran seputar topik, ini dikenal sebagai pengajaran tematik. Guru sekolah dasar khususnya menggabungkan muatan dan ketrampilan dari banyak subjek. Pada tingkat sekolah menengah, tim guru dari area yang berbeda bekerja sama untuk menunjukan pembelajaran yang keluar dari isi pelajaran. Unit-unit ini menyediakan lingkungan pembelajaran yang kaya. Tema yang menarik haruslah menarik perhatian siswa, menyediakan pemecah masalah yang berpengalaman, mendukung aktivitas interdisiplin, dan menyertakan variasi media, dan teknologi.
Mulailah dengan pengalaman yang dialami bersama dengan meminta siswa membaca buku yang sama, melihat sebuah videotape, ikut serta dalam sebuah simulasi, mengunjungi museum, atau mendengar pembicaraan tamu. Kemudian melakukan keahlian bersama yang dapat digunakan siswa untuk bekerja sama mengumpulkan data dan informasi, menganalisa temuannya, menarik kesimpulan, mempersiapkan laporan kelompok, dan membagi hasil mereka dalam suatu media presentasi. Kemungkinan aktivitas terkait dengan penelitian pustaka, pencarian internet, dan aktivitas kelompok kecil.

Instructor-Independent Instruction

Media juga dapat digunakan secara efektif dalam situasi pendidikan formal dimana guru tidak berfungsi atau bekerja dengan siswa-siswa lain. Dalam aturan pendidikan informal, media seperti video kaset dan komputer untuk kursus dapat digunakan oleh orang yang magang pada tempat kerja atau di rumah.

Portofolio

Portofolio merupakan kumpulan pekerjaan siswa yang menggambarkan perkembangannya selama satu periode. Portofolio seringkali manyangkut ilustrasi buku yang dihasilkan siswa, video, dan audiovisual. Portofolio siswa dilakukan seperti  mengumpulkan, mengorganisir, dan berbagi informasi, Meneliti hubungan-hubungan. Menguji hipotesis, Mengkomunikasikan hasil-hasil secara efektif, Merekam berbagai macam tampilan, Mencerminkan aktivitas dan belajar pebelajar, Menekankan pada hasil, sasaran dan prioritas pebelajar, Mendemonstrasikan kreativitas dan personaliti pebelajar. Portofolio dapat berisikan ilustrasi buku seperti; Penulisan dokumen seperti, puisi-puisi, kisah-kisah, atau makalah penelitian, Media presentasi, seperti esai-esai foto, Audio rekaman dari debat-debat, diskusi panel, atau presentasi lisan, Rekaman video dari siswa pencinta atletik, musik, atau yang memiliki keahlian dalam menari, Proyek multimedia komputer yang disertai percetakan, data, grafik, dan gambar-gambar yang bergerak.

PERAN TEKNOLOGI DAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN

Teknologi dan media dapat melayani banyak peran dalam pembelajaran. Ketika pengajaran adalah berpusat pada guru (teacher-cntered), teknologi dan media digunakan untuk mendukung presentasi pengajaran. Sebagai contoh, guru mungkin menggunakan papan elektronik untuk menampilkan materinya. Selain itu, ketika pengajaran adalah berpusat pada siswa (student-centered), siswa adalah pengguna pokok teknologi dan media. Penggunaan kegiatan berpusat pada siswa memungkinkan guru menghabiskan lebih dari waktu mereka mendiagnosis dan mengkoreksi masalah-masalah siswa, mengkonsultasi dengan individu siswa, dan mengajar sata-satu dan dalam kelompok kecil. Penggunaan teknologi dan media oleh siswa ada dua yang penting, yaitu portfolio dan pendidikan jarak jauh.

 

SETTING PEMBELAJARAN

Pembelajaran dapat bertempat pada banyak setting berbeda. Setting pembelajaran adalah sekitar atau yang mengelilingi dalam pembelajaran. Selain di ruang kelas, pembelajaran juga terjadi di laboratorium (laboratorium komputer, laboratorium IPA, laboratorium bahasa), perpustakaan, pusat media, taman bermain, gedung teater, tanah lapang, ruang belajar, dan di rumah. Ada dua setting pembelajaran yaitu synchronous dan asynchronous. Untuk pengajaran synchronous, pembelajar harus menyajikan pada waktu yang sama. Sebagai contoh, dalam presentasi di dalam ruang kelas, program televisi langsung (bukan videotape), atau teleconference. Dalam pengajaran synchronous ada dua tipe. Yang pertama ialah pengajaran langsung, face to face. Dan yang kedua sering disebut pembelajaran jarak jauh. Kegiatan pengajarannya dalam waktu yang sama tapi pembelajar dapat berada di tempat yang berbeda, contohnya adalah dengan chatting. Pengajaran yang kedua adalah asynchronous. Pembelajaran ini tidak harus dilaksanakan tidak pada waktu yang sama.

 

STRATEGI

Strategi berarti suatu jalan atau cara untuk melakukan sesuatu. Strategi dideskripsikan sebagai sebuah prosedur pengajaran yang dipilih untuk membantu proses kegiatan belajar. Strategi pembelajaran adalah suatu cara yang melibatkan pembelajar dalam sebuah aktivitas belajar mengajar. Contohnya adalah termasuk presentasi, demonstrasi, cooperative learning, permainan, simulasi, pemecahan masalah, diskusi, drill-and-practice, discovery, dan tutorial. Teknologi dan media akan melengkapi dan mendukung banyak strategi pembelajaran. Setelah memilih strategi, selanjutnya memilih teknologi dan media untuk mengimplementasikan strategi tersebut.

KESIMPULAN

 

Dalam makalah ini membicarakan seputar hal media, Teknologi, dan pembelajaran. Belajar merupakan sebuah aktifitas transformasi ilmu pengetahuan, sikap dan nilai dari satu generasi ke generasi lainnya. Membutuhkan satu saluran dan media yang harus tepat. Sehingga perlu pertimbangan yang mendalam dan tepat dalam menentukan teknologi yang akan digunakan sebagai sarana pembelajaran. Disamping itu, penggunaan media pembelajaran juga harus dipertimbangkan dalam penggunaanya dari berbagai sisi. Diantara berbagai faktor yang harus dipertimbangkan dalam penggunaan media pembelajaran antara lain adalah faktor efektifitas penggunaan media, kemudahan dalam penggunaannya, ketersediaan sumber energi penggerak media tersebut bila menggunakan listrik sebagai motor penggeraknya serta pertimbangan lain yang perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kultural masyarakat setempat.

 

DAFTAR RUJUKAN

Heinich R, Molenda M, Russel James D, Smaldino Sharon E, Ninth Edition. Instructional Media and Technologies for Learning. Publishing by John Wiley & Sons Inc.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUGAS

MEDIA PEMBELAJARAN

Dosen Pengampu: Prof.Dr. Sri Anitah W, M.Pd

 

 

 Ini adalah makalah media pembelajaran yang pertama kali kelompok kita maju presentasi…:)

FATMA SUKMAWATi

AHMAD MUSHLIH

WAHYUDI

BAZARUDDIN AHMAD

 

 

 

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FAKULTAS PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2012

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: