filsafat pendidikan

MAKALAH

MATA KULIAH FILSAFAT ILMU

 

DOSEN PENGAMPU:

Prof. Dr. Joko Nurkamto

 

PENGERTIAN DAN OBJEK ILMU

 

Oleh:

Ahmad Mushlih  (S811202004)

Fatma Sukmawati (S811202018)

 

 

 

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2012

 

 

PENGERTIAN DAN OBJEK ILMU

 

Ahmad Mushlih

Fatma Sukmawati

Universitas Sebelas Maret Surakarta

 

Abstract

The purpose of this paper is to know the definition of science, characteristics of science and scientific objects. Science is a sistematized knowledge derives from observation, study, and experimentation carried on in order to determine the nature or principles of what being studied. Meanwhile, regarding the method of advancing the science, science has characteristics and properties of a reliable, valid, and accurate. That is, the effort to acquire and develop knowledge through measurement using a measuring instrument which has high reliability and validity, and the inferences which have an accuracy with a high level of siginifikansi anyway. It can even provide predictive power over the possibilities of a thing.

 

  1. A.     Pendahuluan

Ilmu merupakan pengetahuan yang sudah akrab dengan manusia dari sejak usia kanak-kanak hingga dewasa. Manusia mempelajari ilmu pengetahuan mulai dari ilmu pengetahuan sederhana seperti yang diajarkan oleh guru-guru di sekolah antara lain berhitung, berlogika, bereksperimen dan mengenal alam semesta sampai dengan ilmu pengetahuan yang lebih kompleks seiring dengan bertambahnya jenjang pendidikan yang dijalani. Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Dalam paper ini akan dibahas Pengertian dan Objek Ilmu, yang meliputi definisi ilmu, karakteristik ilmu, objek ilmu atau batas kajian ilmu, serta perbedaan ilmu dari pengetahuan lain (Agama dan Seni).

 

  1. B.     Pengertian Ilmu

Suriasumantri, Jujun (2005) mengatakan dari semua pengetahuan maka ilmu merupakan pengetahuan yang aspek ontologi, epistemologi dan aksiologisnya telah jauh berkembang dibandingkan dengan pengetahuan-pengetahun lain dan dilaksanakan secara konsekuen serta penuh disiplin. Dengan demikian ilmu bersifat dinamis dan secara praktis menjawab permasalahan manusia.

Suhartono Taat Putra (2010) mengutip pandangan John G Kemeny yang memahami ilmu sebagai semua pengetahuan yang dihimpun dengan perantara metode ilmiah. Amsal Bakhtiar (2011) mengutip pandangan Alfanasyet, seorang pemikir marxist bangsa Rusia yang mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan manusia tentang alam, masyarakat, dan pikiran. Ia mencerminkan alam dan konsep-konsep, kategori dan hukum-hukum, yang ketetapannya dan kebenaranya diuji dengan pengalaman praktis. Lebih lanjut,  Ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu gololangan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam (Endang Saifuddin Anshari, 1981).

Mengutip pendapat Moh. Nazir (1983) mengemukakan bahwa ilmu tidak lain dari suatu pengetahuan, baik natural ataun pun sosial, yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematik menurut kaidah umum. Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Pada zaman yunani kuno pengetahuan rasional mencakup filsafat dan ilmu. Thales sebagai seorang filusuf juga mempelajari astronomi dan topik-topik pengetahuan yang termasuk fisika. Fisika adalah suatu pengetahuan teoritis yang mempelajari alam. Pengetahuan ini juga disebut filsafat alam.

Menurut Jujun Suriasumatri (2005) pengertian ilmu adalah salah satu dari buah pemikiran manusia dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan. Ilmu merupakan salah satu dari pengetahuan manusia. Untuk dapat menghargai ilmu sebagaimana mestinya sesungguhnya kita harus mengerti apakah hakikat ilmu itu sebenarnya. Seperti peribahasa Prancis, “Mengerti berarti memanfaatkan segalanya”, maka pengertian yang mendalam terhadap hakikat ilmu, bukan akan mengikat apresiasi kita terhadap ilmu namun juga membuka mata kita terhadap berbagai kekurangannya. Sementara itu, Harun Nasution (1978) mendefinisikan ilmu dengan melihat pada sudut proses historis dan pendekatannya. Ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang disistematiskan atau kesatuan pengetahuan yang terorganisasikan. Ilmu dapat pula dilihat sebagai suatu pendekatan atau suatu metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh pancaindra manusia.

Ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebutkan segenap pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai suatu kebulatan hal ini sependapat  Ihsan fuad (2010) mengutip pendapat The Liang Gie dilihat dari ruang lingkupnya pengertian ilmu adalah Jadi ilmu mengacu pada ilmu seumumnya. Ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari pokok soal tertentu, ilmu berarti cabang ilmu khusus. Sedangkan jika dilihat dari segi maknanya The Liang Gie mengemukakan tiga sudut pandang berkaitan dengan pemaknaan ilmu/ilmu pengetahuan yaitu Ilmu sebagai pengetahuan, artinya ilmu adalah sesuatu kumpulan yang sistematis, atau sebagai kelompok pengetahuan teratur mengenai pokok soal atau subject matter. Dengan kata lain bahwa pengetahuan menunjuk pada sesuatu yang merupakan isi substantif yang terkandung dalam ilmu.

The Liang Gie  dalam Ihsan Fuad (2010) memaknakan ilmu sebagai aktivitas,  artinya suatu aktivitas mempelajari sesuatu secara aktif, menggali, mencari, mengejar atau menyelidiki sampai pengetahuan itu diperoleh. Jadi ilmu sebagai aktivitas ilmiah dapat berwujud penelaahan (Study), penyelidikan (inquiry), usaha menemukan (attempt to find), atau pencarian (Search). Ilmu sebagi metode, artinya ilmu pada dasarnya adalah suatu metode untuk menangani masalah-masalah, atau suatu kegiatan penelaahan atau proses penelitian yang mana ilmu itu mengandung prosedur, yakni serangkaian cara dan langkah tertentu yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam dunia keilmuan dikenal sebagai metode. Dari pengertian di atas nampak bahwa Ilmu memang mengandung arti pengetahuan, tapi bukan sembarang pengetahuan melainkan pengetahuan dengan ciri-ciri khusus yaitu yang tersusun secara sistematis, dan untuk mencapai hal itu diperlukan upaya mencari penjelasan atau keterangan. Dalam hubungan ini Moh Hatta (1964) menyatakan bahwa pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut Ilmu, dengan kata lain ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh melalui upaya mencari keterangan atau penjelasan.

Lebih jauh dengan memperhatikan pengertian-pengertian Ilmu sebagaimana diungkapkan di atas, penulis menarik kesimpulan berkaitan dengan pengertian ilmu adalah pengetahuan yang disusun secara sistematis dengan menggunakan metode ilmiah baik dengan cara studi, observasi, maupun eksperimen. Dengan demikian sesuatu yang bersifat pengetahuan biasa dapat menjadi suatu pengetahuan ilmiah bila telah disusun secara sistematis serta mempunyai metode berfikir yang logis.

  1. C.        Karakteristik Ilmu

Jerome Ravertz (2009; 129) mengidentifikasi tugas ilmu sebagai menjelaskan peristiwa-peristiwa, proses-proses, atau fenomena aktual di alam; dimana tidak ada sistem ide-ide teoretis, istilah-istilah teknis dan prosedur-prosedur matematis yang patut disebut ilmiah jika ia tidak bergulat dengan fakta-fakta empiris, dimana  pada titik tertentu serta dengan cara tertentu akan membantunya menjadi lebih dipahami. Oleh karena itu ilmu bertugas menjawab berbagai masalah yang muncul dalam konteks kehidupan manusia pada masa tertentu. Bila kehidupan manusia berlangsung dinamis, maka ilmu juga akan berjalan dinamis mengikuti berbagai masalah yang muncul dalam dinamika kehidupannya. Hal itu nampak dalam metafor Immanuel Kant dengan “menempatkan alam untuk dipersoalkan”, seperti halnya di dalam fisika dan biologi dasar. Bila demikian halnya, maka ilmu akan bertumbuh secara progresif dan akumulatif dari masa tertentu menuju masa lainnya.

Ihsan fuad (2010) menyatakan bahwa secara lebih khusus menyebutkan ciri-ciri ilmu adalah: Empiris berdasarkan pengamatan dan percobaan, Sistematis atau tersusun secara logis serta mempunyai hubungan saling bergantung dan teratur, Obyektif yaitu terbebas dari persangkaan dan kesukaan pribadi, Analitis yaitu menguraikan persoalan menjadi bagian-bagian yang terinci dan Verifikatif yaitu dapat diperiksa kebenarannya. Ilmu perlu dasar empiris, apabila seseorang memberikan keterangan ilmiah maka keterangan itu harus memungkinkan untuk dikaji dan diamati, jika tidak maka hal itu bukanlah suatu ilmu atau pengetahuan ilmiah, melainkan suatu perkiraan atau pengetahuan biasa yang lebih didasarkan pada keyakinan tanpa peduli apakah faktanya demikian atau tidak. M. Arifin (1995) menyimpulkan bahwa upaya-upaya untuk melihat fakta-fakta memang merupakan ciri empiris dari ilmu, namun demikian bagaimana fakta-fakta itu dibaca atau dipelajari jelas memerlukan cara yang logis dan sistematis, dalam arti urutan cara berfikir dan mengkajinya tertata dengan logis sehingga setiap orang dapat menggunakannya dalam melihat realitas faktual yang ada.

Disamping itu Uhar Suharsaputra (2004) ilmu juga harus objektif dalam arti perasaan suka-tidak suka, senang-tidak senang harus dihindari, kesimpulan atau penjelasan ilmiah harus mengacu hanya pada fakta yang ada, sehingga setiap orang dapat melihatnya secara sama pula tanpa melibatkan perasaan pribadi yang ada pada saat itu. Analitis merupakan ciri ilmu lainnya, artinya bahwa penjelasan ilmiah perlu terus mengurai masalah secara rinci sepanjang hal itu masih berkaitan dengan dunia empiris, sedangkan verifikatif berarti bahwa ilmu atau penjelasan ilmiah harus memberi kemungkinan untuk dilakukan pengujian di lapangan sehingga kebenarannya bisa benar-benar memberi keyakinan.

Menurut Ismaun (2001) mengetengahkan sifat atau ciri-ciri ilmu sebagai berikut : (1) obyektif; ilmu berdasarkan hal-hal yang obyektif, dapat diamati dan tidak berdasarkan pada emosional subyektif, (2) koheren; pernyataan/susunan ilmu tidak kontradiksi dengan kenyataan; (3) reliable; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keterandalan (reabilitas) tinggi, (4) valid; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keabsahan (validitas) yang tinggi, baik secara internal maupun eksternal, (5) memiliki generalisasi; suatu kesimpulan dalam ilmu dapat berlaku umum, (6) akurat; penarikan kesimpulan memiliki keakuratan (akurasi) yang tinggi, dan (7) dapat melakukan prediksi; ilmu dapat memberikan daya prediksi atas kemungkinan-kemungkinan suatu hal.

  1. D.    Obyek Ilmu

Untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan yang lain, maka pertanyaan yang dapat diajukan adalah : Apa yang dikaji oleh pengetahuan itu (ontologi)? Bagaimana caranya mendapatkan pengetahuan tersebut (epistemologi)? Serta untuk apa pengetahuan dipergunakan (aksiologi)? Dengan mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas maka dapat dibedakan berbagai jenis pengetahuan. Setiap ilmu mempunyai objeknya sendiri-sendiri, objek ilmu itu sendiri akan menentukan tentang kelompok dan cara bagaimana ilmu itu bekerja dalam memainkan perannya melihat realitas. Secara umum objek ilmu adalah alam dan manusia. Namun, karena alam itu sendiri terdiri dari berbagai komponen, dan manusia pun mempunyai keluasan dan kedalam yang berbeda-beda, maka mengklasifikasikan objek amat diperlukan. Terdapat dua macam objek dari ilmu menurut Suhartono Taat Putra (2011) yaitu objek material dan objek formal.

Objek material adalah seluruh bidang atau bahan yang dijadikan telaahan ilmu, sedangkan objek formal adalah objek yang berkaitan dengan bagaimana objek material itu ditelaah oleh suatu ilmu, perbedaan objek setiap ilmu itulah yang membedakan ilmu satu dengan lainnya terutama objek formalnya, (M. Arifin, 1995). Misalnya ilmu ekonomi dan sosiologi mempunyai objek material yang sama yaitu manusia, namun objek formalnya jelas berbeda, ekonomi melihat manusia dalam kaitannya dengan upaya memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan sosiologi dalam kaitannya dengan hubungan antar manusia. Sedangkan Suriasumantri (2005) mengatakan bahwa objek material filsafat ilmu adalah pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum.

Lorens Bagus (dalam Ismaun, 2001) menjelaskan bahwa dalam teori skolastik terdapat pembedaan antara objek material dan objek formal. Objek material merupakan objek konkrit yang disimak ilmu sedangkan objek formal merupakan aspek khusus atau sudut pandang terhadap ilmu. Yang mencirikan setiap ilmu adalah objek formalnya. Sementara objek material yang sama dapat dikaji oleh banyak ilmu lain. Auguste Comte (dalam Sudrajat, 2008) mendasarkan klasifikasinya pada objek material. Ia membuat deretan ilmu pengetahuan berdasarkan perbedaan objek material, yaitu: (1)Ilmu pasti/matematika, (2) Ilmu falak/astronomi, (3) Ilmu fisika, (4) Ilmu kimia, (5) Ilmu hayat/biologi, dan (6) Sosiologi.

Dari deretan ilmu pengetahuan tersebut menunjukkan perbedaan objek dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling kompleks. Objek ilmu pasti adalah yang paling bersahaja karena hanya menyangkut angka yang mengikuti aturan tertentu. Oleh karena itu, matematika disebut juga ilmu pasti meskipun matematika paling bersahaja.  Matematika juga merupakan alat bagi segenap ilmu pengetahuan. Sementara itu, ilmu palak menambahkan unsur gerak terhadap matematika, misalnya kinematika. Objek ilmu alam adalah ilmu palak atau matematika ditambah dengan zat dan gaya, sedangkan objek ilmu kimia merupakan objek ilmu fisika ditambah dengan perubahan zat. Unsur gelaja kehidupan dimasukkan pada objek ilmu hayat. Adapun sosiologi mempelajari gejala kehidupan manusia berkelompok sebagai makhluk sosial.

Objek formal menurut Suriasumantri (2005) adalah sudut pandang dari mana sang subyek menelaah obyek materialnya. Obyek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, misalnya apa hakikat ilmu pengetahuan, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah, dan apa fungsi ilmu itu bagi manusia. Problem inilah yang dibicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis.

Aristoteles (dalam Sudrajat, 2008) memberikan suatu klasifikasi berdasarkan objek formal. Ia membedakan antara ilmu teoritis (spekulatif), praktis, dan poietis (produktif). Perbedaanya terletak pada tujuannya masing-masing. Ilmu teoritis bertujuan bagi pengetahuan itu sendiri, ialah untuk keperluan perkembangan ilmu, misalnya dalam hal preposisi atau asumsi-asumsinya. Ilmu teoritis mencakup fisika, matematika, dan metafisika. Ilmu praktis, ialah ilmu pengetahuan yang bertujuan mencari norma atau ukuran bagi perbuatan kita, termasuk di dalamnya adalah etika, ekonomia, dan politika. Poietis, ialah ilmu pengetahuan yang bertujuan menghasilkan suatu hasil karya, alat dan teknologi. Ada perbedaan esensial di antaranya, yaitu ilmu praktis bersangkutan dengan penggunaan dan pemanfaatannya, sedangkan poietis bersangkutan dengan menghasilkan sesuatu, termasuk alat yang akan digunakan untuk penerapan.

Berdasarkan taraf abstraksinya menurut Mudyaharjo Reja (2001) ilmu teoritis dibagi menjadi tiga jenis. Taraf pertama, abstraksi dilakukan terhadap individualitas gejala atau kenyataan sehingga ketika berbicara tentang rumah dan manusia, yang tinggal hanya rumah atau manusia pada umumnya. Abstraksi pada taraf kedua meninggalkan kuantitas serta menimbulkan matematika yang mencakup geometri (ilmu ukur), serta aritmatika (ilmu hitung). Abstraksi pada taraf ketiga menghasilkan sesuatu yang tidak bermateri (immaterialitas) yang dipelajari dalam metafisika. Kenyataan itu ditinjau dari sudut universalitas, kuantitas, dan immaterialitas yang berarti berdasarkan objek formal.

Penulis memberi contoh objek material dalam ilmu matematika yaitu tentang bilangan, sedangkan objek formal yaitu penggunaan dari lambang bilangan untuk penghitungan dan pengukuran. Hal ini sependapat dengan Mantiq (2012) menyatakan bahwa filsafat membahas bilangan sebagai objek studi material artinya filsafat menjadikan bilangan sebagai objek sasaran untuk menyelidiki ilmu tentang bilangan itu sendiri. Objek material filsafat ilmu bilangan adalah bilangan itu sendiri. Bilangan itu sendiri dimulai dari yang paling sederhana, yakni bilangan asli, bilangan cacah, kemudian bilangan bulat, dan seterusnya hingga bilangan kompleks. Sebagai objek formal filsafat, bilangan dikaji hakikat atau esensinya. Pengkajian filsafat tentang bilangan misalnya mengenai apa hakikat dari bilangan itu, bagaimana merealisasikan konsep bilangan yang abstrak menjadi riil atau nyata, bagaimana penggunaan bilangan untuk penghitungan dan atau pengukuran.

  1. E.        Perbedaan Ilmu dari Pengetahuan Lain (Agama dan Seni)

Dalam kaitannya dengan ilmu, seni dan agama, seorang ilmuwan harus mengenali masing-masing jenis pada bidang kajian ontologis, epistemologis dan aksiologisnya. Menurut Wahid Ramli Abdul (1996) dengan mengidentifikasi landasan filosofis ilmu tersebut akan didapatkan ciri-ciri pengetahuan dengan benar, baik pengetahuan seni, agama dan ilmu. Bila tidak mendudukkan pengetahuan pada landasan filosofisnya maka pengetahuan tidak akan mampu digunakan dengan maksimal dan mencegah penyalahgunaan masing-masing disiplin pengetahuan. Secara epistemologi pengetahuan agama berbeda dengan ilmu maupun dengan seni. Sebagai contoh ketika manusia melihat sebuah gunung berapi. Ilmu melihat kejadian gunung berapi secara ilmiah dan menjelaskannya sebagai proses vulkanis. Diawali dari proses tektonik, magma menerobos rekahan-rekahan permukaan bumi dan naik secara berangsur hingga menjadi sebuah gunung berapi (JW. Hedenquist, 1996). Pengetahuan di atas mampu dijelaskan oleh ahlinya secara empiris, sistematis, obyektif dan bisa diverifikasi secara ilmiah.

Agama melihat gunung berapi sebagai buah cipta Tuhan dari yang tidak ada menjadi ada. Keberadaan gunung berapi tersebut tidak membutuhkan jawaban “mengapa” dan “bagaimana” dalam pengetahuan agama. Wahid Ramli Abdul (1996) menjelaskan dalam perspektif agama Ibrahimisme (Yahudi, Kristen dan Islam) menjawab mengapa gunung berapi ada adalah karena dikehendaki oleh Tuhan dan bagaimana gunung berapi ada adalah karena diciptakan oleh Tuhan. Oleh karena itu landasan epistemologis bagi agama tidak bersifat ilmiah tetapi keyakinan. Dengan demikian Agama bersumber dari keyakinan absolut dan bersifat metafisik.

Berbeda lagi dengan pengetahuan seni. Pengetahuan seni melihat gunung berapi sebagai sebuah keindahan alam yang harus diapresiasi secara artistik. Kekaguman jiwa pada keindahan gunung berapi tersbut kemudian dituangkan dalam produk seni, seperti lagu-lagu, puisi, lukisan dan lain sebagainya. Epistemologi seni lebih kepada bagaimana melihat gunung berapi, meresapi keindahannya, kemudian mengekpresikan gejolak artistik ke dalam sebuah hasil karya yang indah. Dengan melihat penjelasan di atas, maka ilmu tidak boleh dikacaukan dengan seni, demikian juga ilmu tidak boleh dikonfrontasikan dengan agama. Karena ketiganya memiliki landasan filsafati yang berbeda, baik dari landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis.

 

  1. F.          Penutup

Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu  dibidang (pengetahuan) itu. Dengan demikian sesuatu yang bersifat pengetahuan biasa dapat menjadi suatu pengetahuan ilmiah bila telah disusun secara sistematis serta mempunyai metode berfikir yang jelas, karena pada dasarnya ilmu yang berkembang dewasa ini merupakan akumulasi dari pengalaman/pengetahuan manusia yang terus difikirkan, disistimatisasikan, serta diorganisir sehingga terbentuk menjadi suatu disiplin yang mempunyai kekhasan dalam objeknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Beerling, et.al. 1997. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta. Tiara Wacana.

Harold ,H Titus. 1959. Living  Issues In Philosophy.  New York: American Book.

Harun Nasution. 1978. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta.  Bulan Bintang.

Ismaun. 2001. Filsafat Ilmu.  Bandung : UPI Bandung

JW. Hedenquist. 1996. Epithermal Gold Deposits: Styles, Characteristics, and Exploration Japan: Komiyama Printing Co.Ltd

Keraf, A. Sonny dan Mikhael Dua. 2001. Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis. Yoyakarta: Kanisius.

Mantiq, http://media.isnet.org./islam/etc/mantiq.htm.Diakses tanggal 7 April 2012

M. Arifin. 1995. Agama, Ilmu dan Teknologi. Jakarta. Golden Terayon Press.

Mohammad Hatta. 1964. Alam Pikiran Yunani . Jakarta. Tintamas.

Moh. Nazir. 1983. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Mudyaharjo, Reja. 2001. Filsafat Ilmu Pendidikan. Bandung: PT Remaja.

Putra, Suhartono Taat . 2010. Filsafat Ilmu. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.

Suriasumantri, Jujun S. 2005. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Uhar Suharsaputra. 2004. Pengantar Filsafat. Unversitas Kuningan Perss.

Wahid, Ramli Abdul. 1996. Ulumul Qu’ran. Jakarta: Grafindo.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: